Lompat ke konten utama

Apa Itu Agentic AI? Cara Kerja vs AI Tradisional

Agentic AI merencanakan dan menjalankan tindakan menuju tujuan. Pelajari cara kerja, komponen, contoh, perbedaannya, manfaat, serta risikonya.

Tim Optifya Diperbarui
Ilustrasi alur Agentic AI dari tujuan, perencanaan, penggunaan tools, hingga evaluasi

Apa Itu Agentic AI?

Agentic AI adalah pendekatan kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem merencanakan dan menjalankan serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan dengan tingkat otonomi tertentu. Sistem tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi dapat memilih langkah, menggunakan tools, mengamati hasil, dan menyesuaikan tindakan berikutnya.

Kata agentic merujuk pada kemampuan bertindak sebagai agen menuju tujuan yang didelegasikan. Tujuannya tetap diberikan atau dibatasi manusia dan sistem. Agentic AI bukan berarti AI memiliki kehendak, kesadaran, atau kebebasan tanpa batas.

Google Cloud menjelaskan Agentic AI sebagai AI yang berfokus pada pengambilan keputusan dan tindakan secara lebih otonom. Mekanismenya mencakup persepsi, penalaran, perencanaan, tindakan, serta evaluasi hasil.

💡 Poin Penting
  • Agentic AI menerima tujuan, menyusun langkah, memakai tools, dan mengevaluasi hasil.
  • Model AI hanya salah satu komponen; sistem juga membutuhkan instruksi, akses, memory atau state, orkestrasi, dan guardrails.
  • Tingkat otonomi dapat berbeda dan tidak menghapus kebutuhan kontrol manusia.
  • Agentic AI berbeda dari Generative AI yang fokus utamanya menghasilkan konten.

Komponen Utama Agentic AI

Agentic AI terbentuk dari gabungan model dan komponen sistem yang memungkinkan output berubah menjadi tindakan. Susunannya bergantung pada kebutuhan, tetapi komponen berikut biasanya menentukan perilakunya.

Tujuan dan instruksi

Sistem memerlukan tujuan yang dapat dioperasionalkan. Instruksi menjelaskan hasil yang diinginkan, ruang lingkup, prioritas, serta tindakan yang boleh atau tidak boleh dilakukan.

Tujuan “tingkatkan performa marketing” terlalu luas untuk dijalankan dengan aman. Sistem membutuhkan sasaran, sumber data, metrik, izin, batas biaya, dan kondisi kapan harus meminta persetujuan manusia.

Model dan kemampuan penalaran

Model memproses input, memahami instruksi, mempertimbangkan konteks, dan membantu memilih langkah berikutnya. Large Language Model sering digunakan karena dapat menangani bahasa serta berinteraksi dengan tools melalui format yang ditentukan.

Namun, LLM bukan Agentic AI dengan sendirinya. Model yang hanya menghasilkan teks tetap merupakan model generatif sampai ditempatkan dalam sistem yang dapat mengelola tujuan dan tindakan.

Tools dan akses

Tools memungkinkan sistem mencari informasi, membaca database, menjalankan kode, memanggil API, membuat dokumen, atau berinteraksi dengan aplikasi lain. Setiap tool memperluas kemampuan sekaligus risiko.

Akses perlu mengikuti prinsip seperlunya. Agent yang hanya bertugas membaca laporan tidak seharusnya memiliki izin menghapus data atau mengubah anggaran.

Memory dan state

State menyimpan kondisi pekerjaan saat ini, seperti langkah yang sudah dilakukan dan output yang diperoleh. Memory dapat menyimpan informasi yang diperlukan lintas langkah atau interaksi, sesuai kebijakan sistem.

Penyimpanan ini perlu dibatasi. Informasi sensitif, konteks yang sudah tidak berlaku, dan kesalahan sebelumnya dapat memengaruhi keputusan berikutnya apabila tidak dikelola.

Orkestrasi

Orkestrasi mengatur urutan proses: kapan model dipanggil, tool mana yang tersedia, bagaimana hasil diperiksa, serta apa yang dilakukan ketika langkah gagal. Workflow dapat memakai satu agent atau beberapa agent dengan peran berbeda.

Guardrails dan kontrol manusia

Guardrails membatasi input, output, akses, tindakan, biaya, waktu, dan kondisi penghentian. Human-in-the-loop menempatkan persetujuan manusia pada keputusan atau tindakan yang memiliki dampak lebih tinggi.

Bagaimana Cara Kerja Agentic AI?

Cara kerja Agentic AI dapat dipahami sebagai siklus goal–plan–act–observe–evaluate. Sistem terus menjalankan siklus tersebut sampai tujuan tercapai, batas proses terpenuhi, atau manusia menghentikannya.

  1. Menerima tujuan. Sistem menerima hasil yang diminta beserta instruksi, konteks, dan batas operasional.
  2. Mengumpulkan informasi. Agent membaca input, state, sumber data, atau lingkungan yang diizinkan.
  3. Menyusun rencana. Tujuan dipecah menjadi langkah-langkah yang dapat dijalankan.
  4. Memilih dan menggunakan tool. Sistem memanggil tool yang sesuai untuk melakukan pekerjaan tertentu.
  5. Mengamati hasil. Output tool, status proses, atau perubahan lingkungan digunakan sebagai informasi baru.
  6. Mengevaluasi kemajuan. Sistem membandingkan hasil dengan tujuan dan memutuskan apakah perlu memperbaiki rencana.
  7. Berhenti atau meminta persetujuan. Proses selesai ketika kriteria terpenuhi, batas tercapai, atau tindakan berikutnya membutuhkan manusia.

Contohnya, agent untuk menjadwalkan rapat dapat membaca permintaan, memeriksa kalender yang diizinkan, mencari waktu kosong, menyusun pilihan, dan membuat agenda setelah pengguna menyetujui. Jika salah satu peserta tidak tersedia, agent dapat memperbarui rencana tanpa mengulang seluruh pekerjaan dari awal.

Siklus tersebut berbeda dari satu kali inference, tetapi setiap keputusan model di dalamnya tetap memakai proses AI biasa. Dasarnya dapat dipahami melalui artikel cara kerja AI dari input hingga output.

Perbedaan Agentic AI, AI Tradisional, dan Generative AI

AI tradisional umumnya menghasilkan prediksi atau klasifikasi, Generative AI menghasilkan konten, sedangkan Agentic AI mengoordinasikan tindakan menuju tujuan. Perbandingan ini membantu menjelaskan peran, tetapi istilah “AI tradisional” bukan kategori teknis tunggal.

AspekAI tradisionalGenerative AIAgentic AI
FokusPrediksi, klasifikasi, atau keputusan tertentuMenghasilkan atau mengubah kontenMencapai tujuan melalui beberapa tindakan
Pola interaksiInput lalu outputPrompt lalu kontenTujuan lalu siklus perencanaan dan tindakan
Penggunaan toolsBiasanya diatur aplikasiDapat tersedia, tetapi bukan syarat utamaMenjadi bagian penting untuk bertindak
State atau memorySering terbatas pada proses tertentuUmumnya berupa konteks interaksiDigunakan untuk melacak kemajuan dan hasil
OtonomiRendah atau dipicu sistem lainTerutama responsif terhadap promptBervariasi, dari terawasi hingga lebih mandiri
KontrolAturan aplikasi dan validasi outputReview konten dan filterIzin, guardrails, approval, logging, dan penghentian

AWS membandingkan AI tradisional dan Agentic AI dari sisi execution model, otonomi, proaktivitas, delegated intent, konteks, dan adaptasi. Perbedaan praktisnya adalah AI tradisional berperan sebagai fungsi di dalam aplikasi, sedangkan sistem agentic dapat mengelola beberapa fungsi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Agentic AI sering menggunakan Generative AI sebagai komponen penalaran atau komunikasi. Namun, menghasilkan rencana dalam bentuk teks belum sama dengan menjalankan rencana tersebut. Sistem baru bersifat agentic ketika dapat mengubah rencana menjadi tindakan di dalam lingkungan yang diizinkan.

Perbedaan Agentic AI dan AI Agent

AI agent adalah unit perangkat lunak yang bekerja menuju tujuan, sedangkan Agentic AI lebih sering digunakan untuk menjelaskan pendekatan atau karakter sistem yang memiliki agency. Dalam praktiknya, kedua istilah ini sering dipakai secara bergantian dan belum memiliki batas universal.

Satu AI agent dapat menangani tugas tertentu, seperti mencari informasi dan membuat ringkasan. Sistem Agentic AI dapat mengoordinasikan satu atau beberapa agent, workflow, tools, dan kontrol untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih luas.

Perbedaannya dapat dilihat dari sudut berikut:

  • AI agent: entitas atau komponen yang menerima tugas dan bertindak.
  • Agentic workflow: alur kerja yang memberi ruang bagi model untuk memilih sebagian langkah.
  • Agentic AI: pendekatan sistem yang menggabungkan goal, perencanaan, tindakan, feedback, dan kontrol.
  • Multi-agent system: beberapa agent dengan peran atau kemampuan berbeda yang saling berkoordinasi.

Label produk tidak cukup untuk menilai tingkat agency. Sistem yang disebut “agent” dapat saja hanya menjalankan workflow tetap, sedangkan workflow yang lebih agentic memberikan pilihan langkah yang lebih dinamis. Yang perlu diperiksa adalah kemampuan, akses, keputusan, dan batas tindakannya.

Contoh Penggunaan Agentic AI

Agentic AI cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan beberapa langkah, perubahan konteks, dan interaksi dengan tools. Tidak semua automasi memerlukannya; workflow deterministik tetap lebih tepat ketika langkah dan hasilnya sudah dapat dipastikan.

Contoh penggunaan yang realistis meliputi:

  • Layanan pelanggan: mencari data pesanan, memeriksa kebijakan, menyusun solusi, lalu meneruskan kasus tertentu kepada manusia.
  • Analisis data: mengambil data dari beberapa sumber, menjalankan pemeriksaan, menemukan perubahan, dan menyiapkan laporan.
  • Pengembangan software: membaca tugas, mengubah kode, menjalankan pengujian, mengamati error, lalu memperbaiki hasil.
  • Operasional pemasaran: mengumpulkan metrik, menandai anomali, menyusun diagnosis awal, dan meminta persetujuan sebelum perubahan diterapkan.
  • Administrasi: membaca permintaan, memeriksa kalender atau dokumen, menyiapkan pilihan, dan menjalankan tindakan setelah approval.
  • Riset: memecah pertanyaan menjadi subtopik, mencari sumber, membandingkan informasi, dan menyusun temuan beserta catatan sumber.

Contoh tersebut tidak berarti semua keputusan harus diotomatisasi. Tindakan yang memengaruhi uang, akses, hak pengguna, data sensitif, atau komunikasi publik perlu memiliki persetujuan dan pihak yang bertanggung jawab.

Manfaat, Risiko, dan Kapan Agentic AI Digunakan

Manfaat Agentic AI muncul ketika pekerjaan tidak cukup diselesaikan oleh satu respons, tetapi masih dapat diberi tujuan dan batas yang jelas. Sistem dapat mengurangi perpindahan manual antartools, mempertahankan state, dan menyesuaikan langkah berdasarkan hasil.

Manfaat yang potensial meliputi:

  • Menjalankan pekerjaan multilangkah secara lebih konsisten.
  • Menghubungkan model dengan data dan aplikasi yang relevan.
  • Menyesuaikan rencana ketika kondisi berubah.
  • Membantu manusia memantau banyak proses.
  • Mendokumentasikan langkah dan hasil apabila logging dirancang dengan baik.

Risikonya lebih besar daripada chatbot yang hanya menghasilkan teks karena sistem dapat bertindak:

  • Kesalahan berantai: keputusan salah pada satu langkah dapat memengaruhi langkah berikutnya.
  • Akses berlebihan: tool atau kredensial dapat dipakai di luar kebutuhan tugas.
  • Prompt injection: instruksi berbahaya dari dokumen atau sumber eksternal dapat mencoba mengubah perilaku agent.
  • Loop dan pemborosan sumber daya: sistem dapat mengulang langkah tanpa kemajuan.
  • State yang keliru: informasi lama atau salah dapat terus dibawa ke keputusan berikutnya.
  • Kurangnya akuntabilitas: tindakan sulit ditelusuri jika logging dan kepemilikan proses tidak jelas.
  • Otomasi keputusan sensitif: manusia dapat kehilangan kesempatan menilai dampak sebelum tindakan dijalankan.

Agentic AI layak dipertimbangkan ketika pekerjaan memiliki tujuan terukur, beberapa langkah, sumber data yang jelas, tools dengan izin terbatas, dan hasil yang dapat diverifikasi. Workflow biasa lebih tepat jika urutannya selalu sama, konsekuensi kesalahan tinggi, atau keberhasilan sulit diukur.

Kontrol minimal yang perlu disiapkan adalah pembatasan akses, validasi input dan output, anggaran tindakan, timeout, logging, evaluasi, kondisi penghentian, serta jalur eskalasi kepada manusia.

Untuk melihat bagaimana seluruh komponen tersebut disusun sebagai satu sistem, lanjutkan ke arsitektur AI agent.

Pertanyaan Umum tentang Agentic AI

Apa yang dimaksud dengan Agentic AI?

Agentic AI adalah sistem AI yang dapat merencanakan dan menjalankan beberapa tindakan untuk mencapai tujuan dalam batas tertentu. Sistem dapat memakai model, tools, memory, feedback, dan kontrol manusia.

Apa perbedaan Agentic AI dan Generative AI?

Generative AI berfokus menghasilkan konten, sedangkan Agentic AI berfokus mencapai tujuan melalui tindakan. Sistem Agentic AI dapat menggunakan model generatif sebagai salah satu komponennya.

Apakah Agentic AI sama dengan chatbot?

Tidak. Chatbot umumnya merespons pesan, sedangkan Agentic AI dapat mempertahankan state, memilih tools, menjalankan tindakan, dan mengevaluasi hasil. Chatbot dapat menjadi antarmuka untuk sistem agentic. Lihat perbedaan AI agent dan chatbot untuk menentukan batasnya dari sisi sistem.

Apakah Agentic AI selalu menggunakan LLM?

Tidak harus, tetapi banyak implementasi modern menggunakan LLM untuk memproses instruksi, konteks, dan pilihan tindakan. Sistem juga dapat memakai aturan, model prediktif, algoritma pencarian, dan komponen lain.

Apakah Agentic AI termasuk Narrow AI?

Ya, sistem Agentic AI yang digunakan saat ini tetap dapat termasuk Narrow AI. Agency menjelaskan cara bertindak, sedangkan Narrow AI menjelaskan batas kemampuan.

Apakah Agentic AI dapat bekerja tanpa manusia?

Sistem dapat menjalankan beberapa langkah tanpa intervensi langsung, tetapi tetap membutuhkan tujuan, akses, batas, evaluasi, dan pihak manusia yang bertanggung jawab. Tingkat human oversight harus disesuaikan dengan risiko tindakan.

Apa risiko utama Agentic AI?

Risiko utamanya meliputi kesalahan berantai, akses berlebihan, prompt injection, tindakan yang tidak sesuai tujuan, loop, biaya tidak terkendali, dan keputusan yang sulit ditelusuri.

Kesimpulan

Agentic AI adalah pendekatan yang menggabungkan tujuan, perencanaan, tools, tindakan, state, evaluasi, dan guardrails. Pembeda utamanya dari AI yang hanya merespons input adalah kemampuan menjalankan beberapa langkah dan menyesuaikan tindakan berdasarkan hasil.

Otonomi bukan tujuan akhir. Sistem Agentic AI yang berguna justru memiliki ruang kerja, izin, ukuran keberhasilan, dan jalur persetujuan yang jelas. Semakin besar dampak suatu tindakan, semakin kuat kontrol dan keterlibatan manusia yang diperlukan.